Selasa, 04 Oktober 2016

Perkembangan Anatomi Batang



LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM
BOTANI TANAMAN

PERKEMBANGAN ANATOMI BATANG




 












DOSEN PENGAMPU : KARTIKA, S.P., M.Si

DISUSUN OLEH : KELOMPOK 5
1.     ASTOMO ARBI
2.     FAHRI SETIAWAN
3.     SHIRLY AVIONICA
4.     SISWANTO
5.     SURYA SAPUTRA



AGROTEKNOLOGI A
FAKULTAS PERTANIAN PERIKANAN DAN BIOLOGI
UNIVERSITAS BANGKA BELITUNG


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Batang mempunyai andil yang sangat besar dalam menunjang kehidupan tumbuhan. Ia memiliki banyak fungsi yang sangat penting. Salah satu fungsinya untuk menunjang tumbuhan. Tetapi anatomi didalam batang juga penting di pelajari. Karena didalamnya terdapat jaringan – jaringan yang mempunyai peran penting dalam kelangsungan hidup tumbuhan. Baik itu jaringan pembuluh seperti xilem dan floem atau yang lain - lain. Pentingnya fungsi dari jaringan – jaringan yang ada di batang inilah yang membuat praktikum ini sangat penting untuk dibuat sebagai laporan. Selain sebagi tugas dari dosen untuk menambah nilai dari mata kuliah Botani.

B.     Tujuan
1.      Mengenal jaringan batang tumbuhan dikotil berkayu.
2.      Mengenal jaringan batang tumbuhan monokotil.
3.      Mengenal perkembangan pertumbuhan primer dan sekunder batang berkayu

C.     Dasar Teori

1.      Perkembangan Ontogeni Batang
Pucuk batang biasanya terdiri atas aksis, yaitu epikotil yang berisi beberapa buku yang belum memanjang dan beberapa primordia daun. Pada perkecambahan biji embrio membesar dan mulai tumbuh, meristem pucuk batang muda menambah primordia daun dan buku. Panjang buku beragam pada spesies yang berbeda. Pada tumbuhan yang daunnya tersusun pada roset basal, bukunya sangat pendek. Namun, sebagian besar Spermatophyta bukunya memanjang. Setiap ruas terdapat satu atau lebih daun. Susunan daun pada batang disebut filotaksis.
Posisi primordia pada ujung batang dipengaruhi oleh faktor dalam, yaitu faktor yang mengendalikan penebaran potensi pertumbuhan dalamm meristem pucuk. Susunan daun disebabkan oleh adanya interaksi dalam pucuk atau pengaruh jaringan dewasa di bawah pucuk melalui perikambium. Ada tiga teori utama yang mendasari penelitian mengenai interaksi lokal dalam pucuk ini.
a.       Teori ruang pertama yang tersedia (first available space theory).
b.      Teori lahan daun atau lahan primordia (leaf fields atau primordia fields theory).
c.       Teori pilin ganda daun (multiple foliar helices theory).

2.      Batang Primer
Batang primer berkembang dari protoderm, prokambium dan meristem dasar. Susunan dan struktur jaringan primer batang adalah sebagai berikut.
Batang dikelilingi epidermis. Diantara sel epidermis ada yang berubah menjadi sel penutup, idioblas dan berbagai tipe trikoma. Disebelah dalam epidermis terdapat korteks yang terdiri atas berbagai tipe sel. Korteks yang paling sederhana seluruhnya terdiri atas sel parenkim berdinding tipis. Pada pelargonium, Retama dan Salicornia, parenkim berfungsi untuk fotosintesis dan sebagai penyimpan tepung metabollit lain. Daerah luar korteks yang berbatasan dengan epidermis terdiri atas kolenkim atau serabut. Korteks batang ini dapat juga berisi sklerida, sel sekretori dan latifiser.
Batas antara korteks dan stele adalah endodermis. Endodermis batang berbeda dengan endodermis akar. Sel endodermis terdiri atas sel hidup yang berbentuk silinder kosong. Dinding endodermis mempunyai struktur yang khas dan khusus. Pada dinding menjari dan melintang terdapat penebalan lignin (zat kayu) dan suberin (zat gabus), yang disebut pita Caspary. Dalam perkembangannya, sel endodermis mengalami perubahan, yaitu penambahan lapisan gabus diseluruh permukaan dalam dinding sel. Selanjutnya diikuti dengan penambahan lapisan sekunder dari selulosa, yang sering kali berisi zat kayu pada sisi dalam lapisan gabus. Lapisan endodermis batang Dicotyledoneae sering kali berisi butir tepung sehingga lapisan ini disebut sarung tepung. Pada daerah batang yang tua tidak terdapat sarung tepung. Disebelah dalam lapisan endodermis terdapat perisiklus yang merupakan satu lapisan sel diluar floem.
Disebelah dalam endodermis adalah stele yang berisi sistem pembuluh. Pada Gymnospermae dan sebagian besar Dicotyledoneae, sistem pembuluh terdiri atas silinder bercelah dan bagian tengahnya disebut empulur. Terdapat dua tipe jaringan pembuluh, yaitu floem yang biasanya terletak di bagian liar dan xilem yang biasanya terletak dibagian dalam. Xile dan floem membentuk berkas penganggkut. Ada berbagai tipe berkas pengangkut, yaitu sebagai berikut.
a.       Kolateral
Tipe Kolateral dibedakan menjadi kolateral tertutup dan terbuka. Disebut kolateral tertutup apabila diantara xilem dan floem tidak terdapat kambium, tetapi terdapat parenkim penghubung. Tipe ini biasa terdapat dalam batang Monodcotyledoneae. Pada kolateral terbuka, diantara xilem dan floem terdapat kambium yang bersifat dipleuris. Tipe ini biasanya terdapat pada batang Dicotyledoneae.
1)      Bikolateral
Berkas pengangkut tipe bikolateral terdiri atas satu bagian xilem di tengah serta satuu bagian floem di sebelah luar dan satu bagian di sebelah dalam. Antara xilem dan floem dakam terdapat parenkim penghubung. Tipe bikolateral terdapat pada beberapa Dicotyledoneae, misalnya pada Solanaeae, Cucurbitaceae, Asclipidaceae, Aporcynaceae, Convolvulaceae dan Compositeae.
2)      Konseentris (terpusat)
Berkas pengangkut tipe konsentris terdiri atas xilem yang dikelilingi ileh floem disebut konsentris amfikribral, yang biasa terdapat pada Pteridophyta. Apabila floem dikelilingi oleh xilem disebut konsentris amfivasal, yang biasa terdapat pada Monocotyledoneae.
3)      Radial (menjari)
Berkas pengangkut tipe menjari terdiri atas xilem dan floem yang tersusun berselang – seling menurut arah jari – jari. Susunan seperti ini terdapat pada akar sewaktu xilem dan floem dalam keadaan primer.

Pada sebagian besar Monocotyledoneae dan sedikit Dicotyledoneae, sistem pembuluh primer terdiri atas sejumlah besar berkas pengangkut yang tersebar tidak beraturan sehingga tidak dapat dibedakan secara tegas batas antara korteks, silinder pembuluh dan empulur.
Sistem pembuluh yang dibicarakan diatas adalah jaringan primer yang terdiri atas protoxilem dan metaxilem serta protofloem dan metafloem. Apabila protoxilem terdapat  di bagian dalam metaxilem dan diferensiasi meraxilem kearah perifer seperti pada batang Angiospermae, disebut endark. Apabila protoxilem terdapat dibagian luar dari metaxilem dan metaxilem berdiferensiasi secara sentripetal seperti pada akar Angiospermae, disebut eksark. Sering kali terjadi mesark, apabila diferensiasi metaxilem kearah sentripetal dan sentrifugal dari protoxilem. Tipe mesark dan eksark xilem primer tampaknya lebih primitif.
Pada Angiospermae, khususnya Dicotyledoneae, silinder pembuluh primer terputus – putus primer terputus – putus pada tiap ruas karena keluarnya satu atau lebih berkas pengangkut yangmasuk kedalam daun. Bagian ini disebut jejak daun (leaf trace). Menurut jumlah jejak daun pada tiap ruas, ada yang disebut unilakunam trilakuna dan multilakuna. Menurut Sinnot (1914), ruas trilakuna adalah tipe primitif pada Angiosperameae. Namun, menurut Bailey (1956), dalam proses vaskularisasi, Angiospermeae dapat mengalami perubahan yang reversibel. Dari kenyataan tersebut dapat diasumsikan bahwa:
a)      Ruas unilakuna dari Ranales tertentu adalah primitif dan tidak dapat berubah selama evolusinya.
b)      Pada Dicotyledoneae tertentu, misalnya Leguminoseae dan Anacardicieae, ruas unilakuna diturunkan dengan pengurangan dari suatu ruas trilakuna dan
c)      Pada Dicotyledoneae yang lain, misalnya Epacridaceae dan Cloranthaceae, ruas tri- dan multilakuna berasal dari ruas unilakuna.

Ujung pucuk berkembang menjadi cabang dan mempunyai hubungan pembuluh dengan sumbu utama. Hubungan pembuluh ini disebut jejak cabang (branch traces). Pada ruas, jejak cabang dekat seklai dengan jejak daun.
Batang berbagai Dicotyledoneae berbeda satu sama lain dalam hal pola pembentukan jaringan pembuluh primer. Perbedaan ini ada hubungannya dengan perkembangan evolusi. Diasumsikan bahwa selama terjadi evolusi, silinder pembuluh primer menjadi lebih tipis dan terjadi pengurangan kearah mmenjari. Karena ada celah daun, celah batang dan peroforasi, pengurangan jaringan pembuluh selanjutnya terjadi kearah membujur. Silinder menjadi terbelah menjadi untaian memanjang, dan ini terdapat pada sebagian besar Dicotyledoneae.
Sistem pembuluh pada Monocotyledoneae biasanya terdiri atas berkas yang tersebar diseluruh jaringan dasar pada batang. Ada dua tipe dasar susunan berkas pengangkutan pada Gramineae, yaitu sebagai berikut.
a.       Berkas pengangkut tersusun dalam dua lingkaran. Lingkaran luar tersusun dari berkas pengangkut yang kecil dan di sebelah dalam tersusun atas berkas pengangkut besar.
b.      Berkas pengangkut tersebar diseluruh penampang melintang batang. Setiap berkas pengangkut dikelilingi oleh selubung sklerenkim

Empulur merupakan tubuh silindris dari jaringan dibagian tengah batang yang dikelilingi oleh jaringan pembuluh. Empulur terdiri atas jaringan yang agak seragam, terutama parenkim dengan susunan longgar. Sering kali terdapat sel parenkim yang berdinding tebal dengan penebalan lignin. Selain itu jufa terdapat sklerida. Pada beberapa spesies, terdapat struktur sekretori dalam empulur. Pada batang beberapa tumbuhan, misalnya Phytolaceae americana, empulurnya berongga.

3.      Tipe Stele
Pola susunan jaringan pembuluh primer berbeda pada berbagai kelompok tumbuhan, bahkan dalam spesies yang sama. Pola yang berbeda menggambarkan berbagai tahap dalam evolusi sistem pembuluh primer. Para ahli menggolongkan stele menjadi beberapa tipe, yaitu sebagai berikut.
a.       Prtostele
Protostele merupakan tipe yang paling primitif. Jaringan pembuluh di bagian tengahnya terdiri atas xilem yang dikelilingi oleh floem. Ada beberapa bentuk protostele, yaitu haplostele, aktinostele, plektostele dan stele dengan empulur campuran.
1)      Haplostele
Haplostele merupakan tipe yang paling primitif, yang terdapat pada batang Selaginella.
2)      Aktinostele
Pada aktinostele, xilem membentuk jari – jari dengan floem diantaranya. Aktinostele dapat dijumpai pada batang Psilotum.
3)      Plektostele
Plektostele mempunyai xilem yang terbagi menjadi bagian – bagian yang sejajar satu sama lain dengan floem terdapat diantaranya, misalnya pada batang Lycopodium.
4)      Stele dengan empulur campuran
Pada paku – pakuan primitif, unsur – unsur xilem bercampur dengan sel – sel parenkim empulur.

b.      Sifonostele
Sifonostele merupakan modifikasi dari protostele. Berdasarkan letak xilem dan floem, sifonestele dibedakan menjadi dua.
1)      Sifonostele ektofloem
Floem mengelilingi xilem, dan terdapat empulur dibagian tengah, dijumpai pada Selaginella.
2)      Sifonostele amfifloem
Floem terdapat disebelah luar dan sebelah dalam dari xilem, dijumpai pada Adiantum dan Marsilea.

c.       Solenostele
Solonostele merupakan modifikasi dari sifonostele dengan adanya jendela daunm yaitu bagian parenkimatis yang terdapat langsung di atas pembelokkan berkas pengangkut yang menuju ke daun. Pada solenostele, jendela daun pendek dan tidak ada tumpang tinduh antara jendela daun yang satu dengan lainnya. Solonestele dibedakan menjadi dua.
1)      Solenostele amfifloem, yang lebih maju, terdapat jendela daun yang overlap satu sama lain dan disebut diktiostele. Pada stele terdapat jaringan silindris yang mempunyai struktur konsentris yang terdiri atas xilem dibagian sentral, dikelilingi oleh floem. Dari sudut pandang anatomi, stele ini adalah berkas pengangkut amfikribal.
2)      Solenostele ektofloem, yang berkembang secara evolusioner menjadi eustele.

d.      Eustele
Sistem pembuluh dari tumbuhan eustele terdiri atas berkas pengangkut kolateral atau bikolateral.
e.       Stele Polisiklus
Tipe stele ini merupakan tipe stele yang berkas pengangkutnya tersebar seperti yang terdapat pada Monocotyledoneae.

f.       Polistele
Pada bagian besar tumbuhan hanya terdapat satu lingkaran endodermis yang membatasi stele dengan korteks. Pada kasus yang jarang terjadi, batang atau akar mempunyai lebih dari satu stele. Kondisi seperti inilah yang disebut polistele.
Pada sifonostele tidak semua interupsi dalam jaringan pembuluh adalah jendela daun seperti yang dijelaskan diatas. Beberapa interupsi merupakan hasil dari reduksi jaringan pembuluh sekunder dan pembentuk parenkim intervasikuler. Interupsi seperti ini disebut perforasi. Apabila perforasi terdapat dalam solenostele akan kacau dengan diktiostele. Hubungan parenkim antara empulur dengan korteks disebut jari – jari empulur.

4.      Batang Sekunder
Pertumbuhan sekunder batang merupakan hasil dari keaktifan kambium pembuluh yang membelah secara terus menerus sehingga jumlahnya meningkat. Pertumbuhan sekunder ini khas pada tumbuhan Dikotil dan Gymnospermae. Beberapa Dikotil menerna (herbaceous) dan kebanyakan Monokotul tidak menebal sekunder. Pada pertumbuhan sekunder terjadi pembentukan periderm dari felogen. Kambium yang terdapat di antara xilem dan floem disebut kambium pembuluh (kambium intravaskuler). Semantara, kambium yang terdapat diantara berkas pengangkut disebut kambium antara pembuluh (kambium intervaskuler).
Kambium mengadakan dilatasi, yaitu pembelahan dengan cepat ke arah membujur dan menjari sehingga diameter batang menjadi lebih tebal. Ke arah dalam kambium membentuk xilem sekunder, sedangkan ke arah luar membentuk floem sekunder. Jaringan yang dibentuk pada pertumbuhan sekunder disebut jaringan sekunder. Kambium biasanya terdiri atas 2 tipe sel sebagai berikut.
a.       Sel inisial menggelendong, yang selnya memanjang dan berujung runcing. Pada batang sequoia sempervirens yang tua, panjang sel – sel  ini mencapai 8,7 mm.
b.      Sel inisial bersinar (ray initial cel), yang selnya banyak dan lebih kecil dari tipe sel inisial menggelongdong, bentuknya hampir isodiametris.

Kedua tipe sel inisial lebih besar pada batang yang tua daru pada batang yang muda. Unsur yang berorientasi memanjang dalam organ, seperti unsur trakea, serabut, parenkim xilem, floem dan unsur laposan berkembang dari sel inisial jari – jari. Sell kambium mempunyai noktah primer dengan plasmodesmata. Dinding menjari lebih tebal daripada dinding membujurnya. Apabila kambium aktif, wilayah kambiumm terdiri atas beberapa lapisan sel. Apabila kambium dorman, wilayah kambium berkurang, biasanya hanya satu lapisan saja. Berdasarkan susunan sel menggelondong,kambium dapat dibedakan menjadi dua tipe berikut.
1)      Kambium bertingkat atau berlapis, letak sel inisial menggelondong tersusun dalam deretan mendatar sehingga ujungnya sama tinggi. Panjang sel inisial ini beragam antara 140 – 150 mm.
2)      Kambium tidak bertingkat, letak sel inisial menggelondong tumpang tindih satu dengan lainnya. Tipe kambiu ini ditemukan dengan panjang yang beragam antara 320 –  2300 mm.

Hasil penebalan sekunder menyebabkan lingkaran silinder xilem meningkat. Kammbium bertingkat membeleh antiklin memanjang. Pada kambium tidak bertingkat, sel inisial menggelondong membelah miring, semu melintang dan antiklin, yang diikuti dengan pertumbuhan intrusif.














BAB II
PEMBAHASAN

Batang Karet, Lidah Buaya, Kacang Hijau dan Jarak Pagar termasuk tumbuhan Dikotil. Ini terlihat dari susunan pembuluhnya. Yaitu xilem dan floem yang tersusun seperti cincin. Sedangkan Jagung termasuk tumbuhan Monokotil. Ini terlihat dari berkas pembuluhannya yang tersebar.(Sri Mulyani, 2006)
            Pada tanaman karet, tipe berkas pengangkutnya adalah tipe kolateral terbuka. Ini terlihat dari diantara xilem dan floem terdapat kambium yang bersifat dipleuris. Tipe stelenya termasuk tipe Eustele.(Sri Mulyani, 2006)
            Pada tanaman lidah buaya, tipe berkas pengangkutnya termasuk tipe berkas Konsentris. Ini terlihat dari xilem dikelilingi oleh floem atau sebaliknya. Batang lidah buaya ini termasuk jenis konsentris amfikribal, karena xilem dikelilingi oleh floem. Termasuk tipe stele Protostele. (Sri Mulyani, 2006)
            Pada tanaman Jarak Pagar, tipe berkas pengangkutnya termasuk tipe kolateral terbuka. Ini dikarenakan diantara xilem dan floem luar terdapat kambiu yang bersifat dipleuris. Tipe stelenya adalah tipe Diktiostele. (Sri Mulyani, 2006)
            Sedangkan pada tanaman Jagung, tipe berkas pengangkutnya adalah tipe Konsentris Amfikribal. Ini bisa kita lihat dari floem yang dikelilingi oleh xilem. Tipe stelenya adalah tipe Solenostele amfifloem. Pada stele terdapat jaringan silindris yang mempunyai struktur konsentris yang terdiri atas xilem dibagian sentral, dikelilingi oleh floem. (Sri Mulyani, 2006)
            Pada tanaman Kacang Hijau, tipe berkas pengankutnya adalah tipe Konsentris Amfikribal. Ini bisa kita lihat dari  xilem dikelilingi oleh floem.
Sedangkan tipe stelenya adalah tipe stele Sifonostele amfifloem dengan floem terdapat disebelah dalam dan xilem disebelah dalam. (Sri Mulyani, 2006)















BAB III
DATA HASIL PENGAMATAN







































BAB IV
KESIMPULAN

1.      Karet, Lidah Buaya, Jarak Pagar dan Kacang Hijau memiki anatomi batang yang sama. Sedangkan Anatomi batang Jagung tidak sama.
2.      Karet, Lidah Buaya, Jarak Pagar dan Kacang Hijau termasuk tumbuhan Dikotil. Sedangkan Jagung tumbuhan monokotil.


































DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2000.Daun.http://www.wikipedia.com.[7 Mei 2011].

Mulyani, Sri.2006.Anatomi Tumbuhan.Yogyakarta: Kanisius.





































LAMPIRAN

By :
Free Blog Templates