LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM
BOTANI TANAMAN
PERKEMBANGAN ANATOMI BATANG
![]() |
DOSEN PENGAMPU : KARTIKA, S.P.,
M.Si
DISUSUN OLEH : KELOMPOK 5
1. ASTOMO ARBI
2. FAHRI SETIAWAN
3. SHIRLY AVIONICA
4. SISWANTO
5. SURYA SAPUTRA
AGROTEKNOLOGI A
FAKULTAS PERTANIAN PERIKANAN DAN
BIOLOGI
UNIVERSITAS BANGKA BELITUNG
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Batang
mempunyai andil yang sangat besar dalam menunjang kehidupan tumbuhan. Ia
memiliki banyak fungsi yang sangat penting. Salah satu fungsinya untuk
menunjang tumbuhan. Tetapi anatomi didalam batang juga penting di pelajari.
Karena didalamnya terdapat jaringan – jaringan yang mempunyai peran penting
dalam kelangsungan hidup tumbuhan. Baik itu jaringan pembuluh seperti xilem dan
floem atau yang lain - lain. Pentingnya fungsi dari jaringan – jaringan yang
ada di batang inilah yang membuat praktikum ini sangat penting untuk dibuat
sebagai laporan. Selain sebagi tugas dari dosen untuk menambah nilai dari mata
kuliah Botani.
B.
Tujuan
1. Mengenal jaringan batang tumbuhan dikotil berkayu.
2. Mengenal jaringan batang tumbuhan monokotil.
3. Mengenal perkembangan pertumbuhan primer dan sekunder
batang berkayu
C.
Dasar Teori
1.
Perkembangan Ontogeni
Batang
Pucuk batang biasanya terdiri atas aksis, yaitu epikotil
yang berisi beberapa buku yang belum memanjang dan beberapa primordia daun.
Pada perkecambahan biji embrio membesar dan mulai tumbuh, meristem pucuk batang
muda menambah primordia daun dan buku. Panjang buku beragam pada spesies yang
berbeda. Pada tumbuhan yang daunnya tersusun pada roset basal, bukunya sangat
pendek. Namun, sebagian besar Spermatophyta bukunya memanjang. Setiap ruas
terdapat satu atau lebih daun. Susunan daun pada batang disebut filotaksis.
Posisi primordia pada ujung batang dipengaruhi oleh
faktor dalam, yaitu faktor yang mengendalikan penebaran potensi pertumbuhan
dalamm meristem pucuk. Susunan daun disebabkan oleh adanya interaksi dalam
pucuk atau pengaruh jaringan dewasa di bawah pucuk melalui perikambium. Ada
tiga teori utama yang mendasari penelitian mengenai interaksi lokal dalam pucuk
ini.
a.
Teori ruang pertama
yang tersedia (first available space theory).
b.
Teori lahan daun atau
lahan primordia (leaf fields atau primordia fields theory).
c.
Teori pilin ganda
daun (multiple foliar helices theory).
2.
Batang Primer
Batang primer berkembang dari protoderm, prokambium dan
meristem dasar. Susunan dan struktur jaringan primer batang adalah sebagai
berikut.
Batang dikelilingi epidermis. Diantara sel epidermis ada
yang berubah menjadi sel penutup, idioblas dan berbagai tipe trikoma. Disebelah
dalam epidermis terdapat korteks yang terdiri atas berbagai tipe sel. Korteks
yang paling sederhana seluruhnya terdiri atas sel parenkim berdinding tipis.
Pada pelargonium, Retama dan Salicornia, parenkim berfungsi untuk fotosintesis
dan sebagai penyimpan tepung metabollit lain. Daerah luar korteks yang
berbatasan dengan epidermis terdiri atas kolenkim atau serabut. Korteks batang
ini dapat juga berisi sklerida, sel sekretori dan latifiser.
Batas antara korteks dan stele adalah endodermis.
Endodermis batang berbeda dengan endodermis akar. Sel endodermis terdiri atas
sel hidup yang berbentuk silinder kosong. Dinding endodermis mempunyai struktur
yang khas dan khusus. Pada dinding menjari dan melintang terdapat penebalan
lignin (zat kayu) dan suberin (zat gabus), yang disebut pita Caspary. Dalam
perkembangannya, sel endodermis mengalami perubahan, yaitu penambahan lapisan
gabus diseluruh permukaan dalam dinding sel. Selanjutnya diikuti dengan
penambahan lapisan sekunder dari selulosa, yang sering kali berisi zat kayu
pada sisi dalam lapisan gabus. Lapisan endodermis batang Dicotyledoneae sering
kali berisi butir tepung sehingga lapisan ini disebut sarung tepung. Pada
daerah batang yang tua tidak terdapat sarung tepung. Disebelah dalam lapisan
endodermis terdapat perisiklus yang merupakan satu lapisan sel diluar floem.
Disebelah dalam endodermis adalah stele yang berisi
sistem pembuluh. Pada Gymnospermae dan sebagian besar Dicotyledoneae, sistem
pembuluh terdiri atas silinder bercelah dan bagian tengahnya disebut empulur.
Terdapat dua tipe jaringan pembuluh, yaitu floem yang biasanya terletak di
bagian liar dan xilem yang biasanya terletak dibagian dalam. Xile dan floem
membentuk berkas penganggkut. Ada berbagai tipe berkas pengangkut, yaitu
sebagai berikut.
a.
Kolateral
Tipe
Kolateral dibedakan menjadi kolateral tertutup dan terbuka. Disebut kolateral
tertutup apabila diantara xilem dan floem tidak terdapat kambium, tetapi
terdapat parenkim penghubung. Tipe ini biasa terdapat dalam batang
Monodcotyledoneae. Pada kolateral terbuka, diantara xilem dan floem terdapat
kambium yang bersifat dipleuris. Tipe ini biasanya terdapat pada batang
Dicotyledoneae.
1)
Bikolateral
Berkas pengangkut tipe bikolateral terdiri atas satu
bagian xilem di tengah serta satuu bagian floem di sebelah luar dan satu bagian
di sebelah dalam. Antara xilem dan floem dakam terdapat parenkim penghubung.
Tipe bikolateral terdapat pada beberapa Dicotyledoneae, misalnya pada
Solanaeae, Cucurbitaceae, Asclipidaceae, Aporcynaceae, Convolvulaceae dan
Compositeae.
2)
Konseentris
(terpusat)
Berkas
pengangkut tipe konsentris terdiri atas xilem yang dikelilingi ileh floem
disebut konsentris amfikribral, yang biasa terdapat pada Pteridophyta. Apabila
floem dikelilingi oleh xilem disebut konsentris amfivasal, yang biasa terdapat
pada Monocotyledoneae.
3)
Radial (menjari)
Berkas
pengangkut tipe menjari terdiri atas xilem dan floem yang tersusun berselang –
seling menurut arah jari – jari. Susunan seperti ini terdapat pada akar sewaktu
xilem dan floem dalam keadaan primer.
Pada sebagian besar Monocotyledoneae dan sedikit
Dicotyledoneae, sistem pembuluh primer terdiri atas sejumlah besar berkas
pengangkut yang tersebar tidak beraturan sehingga tidak dapat dibedakan secara
tegas batas antara korteks, silinder pembuluh dan empulur.
Sistem pembuluh yang dibicarakan diatas adalah jaringan
primer yang terdiri atas protoxilem dan metaxilem serta protofloem dan metafloem.
Apabila protoxilem terdapat di bagian
dalam metaxilem dan diferensiasi meraxilem kearah perifer seperti pada batang
Angiospermae, disebut endark. Apabila protoxilem terdapat dibagian luar dari
metaxilem dan metaxilem berdiferensiasi secara sentripetal seperti pada akar
Angiospermae, disebut eksark. Sering kali terjadi mesark, apabila diferensiasi
metaxilem kearah sentripetal dan sentrifugal dari protoxilem. Tipe mesark dan
eksark xilem primer tampaknya lebih primitif.
Pada Angiospermae, khususnya Dicotyledoneae, silinder
pembuluh primer terputus – putus primer terputus – putus pada tiap ruas karena
keluarnya satu atau lebih berkas pengangkut yangmasuk kedalam daun. Bagian ini
disebut jejak daun (leaf trace). Menurut jumlah jejak daun pada tiap ruas, ada
yang disebut unilakunam trilakuna dan multilakuna. Menurut Sinnot (1914), ruas
trilakuna adalah tipe primitif pada Angiosperameae. Namun, menurut Bailey
(1956), dalam proses vaskularisasi, Angiospermeae dapat mengalami perubahan
yang reversibel. Dari kenyataan tersebut dapat diasumsikan bahwa:
a)
Ruas unilakuna dari
Ranales tertentu adalah primitif dan tidak dapat berubah selama evolusinya.
b)
Pada Dicotyledoneae
tertentu, misalnya Leguminoseae dan Anacardicieae, ruas unilakuna diturunkan
dengan pengurangan dari suatu ruas trilakuna dan
c)
Pada Dicotyledoneae
yang lain, misalnya Epacridaceae dan Cloranthaceae, ruas tri- dan multilakuna
berasal dari ruas unilakuna.
Ujung pucuk berkembang menjadi cabang dan mempunyai
hubungan pembuluh dengan sumbu utama. Hubungan pembuluh ini disebut jejak
cabang (branch traces). Pada ruas, jejak cabang dekat seklai dengan jejak daun.
Batang berbagai Dicotyledoneae berbeda satu sama lain
dalam hal pola pembentukan jaringan pembuluh primer. Perbedaan ini ada
hubungannya dengan perkembangan evolusi. Diasumsikan bahwa selama terjadi
evolusi, silinder pembuluh primer menjadi lebih tipis dan terjadi pengurangan
kearah mmenjari. Karena ada celah daun, celah batang dan peroforasi,
pengurangan jaringan pembuluh selanjutnya terjadi kearah membujur. Silinder
menjadi terbelah menjadi untaian memanjang, dan ini terdapat pada sebagian
besar Dicotyledoneae.
Sistem pembuluh pada Monocotyledoneae biasanya terdiri
atas berkas yang tersebar diseluruh jaringan dasar pada batang. Ada dua tipe
dasar susunan berkas pengangkutan pada Gramineae, yaitu sebagai berikut.
a.
Berkas pengangkut
tersusun dalam dua lingkaran. Lingkaran luar tersusun dari berkas pengangkut
yang kecil dan di sebelah dalam tersusun atas berkas pengangkut besar.
b.
Berkas pengangkut
tersebar diseluruh penampang melintang batang. Setiap berkas pengangkut
dikelilingi oleh selubung sklerenkim
Empulur merupakan tubuh silindris dari jaringan dibagian
tengah batang yang dikelilingi oleh jaringan pembuluh. Empulur terdiri atas
jaringan yang agak seragam, terutama parenkim dengan susunan longgar. Sering
kali terdapat sel parenkim yang berdinding tebal dengan penebalan lignin.
Selain itu jufa terdapat sklerida. Pada beberapa spesies, terdapat struktur
sekretori dalam empulur. Pada batang beberapa tumbuhan, misalnya Phytolaceae
americana, empulurnya berongga.
3.
Tipe Stele
Pola susunan jaringan pembuluh primer berbeda pada
berbagai kelompok tumbuhan, bahkan dalam spesies yang sama. Pola yang berbeda
menggambarkan berbagai tahap dalam evolusi sistem pembuluh primer. Para ahli
menggolongkan stele menjadi beberapa tipe, yaitu sebagai berikut.
a.
Prtostele
Protostele
merupakan tipe yang paling primitif. Jaringan pembuluh di bagian tengahnya
terdiri atas xilem yang dikelilingi oleh floem. Ada beberapa bentuk protostele,
yaitu haplostele, aktinostele, plektostele dan stele dengan empulur campuran.
1)
Haplostele
Haplostele
merupakan tipe yang paling primitif, yang terdapat pada batang Selaginella.
2)
Aktinostele
Pada
aktinostele, xilem membentuk jari – jari dengan floem diantaranya. Aktinostele
dapat dijumpai pada batang Psilotum.
3)
Plektostele
Plektostele
mempunyai xilem yang terbagi menjadi bagian – bagian yang sejajar satu sama
lain dengan floem terdapat diantaranya, misalnya pada batang Lycopodium.
4)
Stele dengan empulur
campuran
Pada
paku – pakuan primitif, unsur – unsur xilem bercampur dengan sel – sel parenkim
empulur.
b.
Sifonostele
Sifonostele
merupakan modifikasi dari protostele. Berdasarkan letak xilem dan floem,
sifonestele dibedakan menjadi dua.
1)
Sifonostele ektofloem
Floem
mengelilingi xilem, dan terdapat empulur dibagian tengah, dijumpai pada
Selaginella.
2)
Sifonostele amfifloem
Floem
terdapat disebelah luar dan sebelah dalam dari xilem, dijumpai pada Adiantum
dan Marsilea.
c.
Solenostele
Solonostele merupakan modifikasi dari sifonostele dengan
adanya jendela daunm yaitu bagian parenkimatis yang terdapat langsung di atas
pembelokkan berkas pengangkut yang menuju ke daun. Pada solenostele, jendela
daun pendek dan tidak ada tumpang tinduh antara jendela daun yang satu dengan
lainnya. Solonestele dibedakan menjadi dua.
1)
Solenostele
amfifloem, yang lebih maju, terdapat jendela daun yang overlap satu sama lain
dan disebut diktiostele. Pada stele terdapat jaringan silindris yang mempunyai
struktur konsentris yang terdiri atas xilem dibagian sentral, dikelilingi oleh
floem. Dari sudut pandang anatomi, stele ini adalah berkas pengangkut
amfikribal.
2)
Solenostele
ektofloem, yang berkembang secara evolusioner menjadi eustele.
d.
Eustele
Sistem
pembuluh dari tumbuhan eustele terdiri atas berkas pengangkut kolateral atau
bikolateral.
e.
Stele Polisiklus
Tipe
stele ini merupakan tipe stele yang berkas pengangkutnya tersebar seperti yang
terdapat pada Monocotyledoneae.
f.
Polistele
Pada
bagian besar tumbuhan hanya terdapat satu lingkaran endodermis yang membatasi
stele dengan korteks. Pada kasus yang jarang terjadi, batang atau akar
mempunyai lebih dari satu stele. Kondisi seperti inilah yang disebut polistele.
Pada
sifonostele tidak semua interupsi dalam jaringan pembuluh adalah jendela daun
seperti yang dijelaskan diatas. Beberapa interupsi merupakan hasil dari reduksi
jaringan pembuluh sekunder dan pembentuk parenkim intervasikuler. Interupsi
seperti ini disebut perforasi. Apabila perforasi terdapat dalam solenostele
akan kacau dengan diktiostele. Hubungan parenkim antara empulur dengan korteks
disebut jari – jari empulur.
4.
Batang Sekunder
Pertumbuhan sekunder batang merupakan hasil dari
keaktifan kambium pembuluh yang membelah secara terus menerus sehingga
jumlahnya meningkat. Pertumbuhan sekunder ini khas pada tumbuhan Dikotil dan
Gymnospermae. Beberapa Dikotil menerna (herbaceous) dan kebanyakan Monokotul
tidak menebal sekunder. Pada pertumbuhan sekunder terjadi pembentukan periderm
dari felogen. Kambium yang terdapat di antara xilem dan floem disebut kambium
pembuluh (kambium intravaskuler). Semantara, kambium yang terdapat diantara
berkas pengangkut disebut kambium antara pembuluh (kambium intervaskuler).
Kambium mengadakan dilatasi, yaitu pembelahan dengan
cepat ke arah membujur dan menjari sehingga diameter batang menjadi lebih
tebal. Ke arah dalam kambium membentuk xilem sekunder, sedangkan ke arah luar
membentuk floem sekunder. Jaringan yang dibentuk pada pertumbuhan sekunder
disebut jaringan sekunder. Kambium biasanya terdiri atas 2 tipe sel sebagai
berikut.
a.
Sel inisial
menggelendong, yang selnya memanjang dan berujung runcing. Pada batang sequoia
sempervirens yang tua, panjang sel – sel
ini mencapai 8,7 mm.
b.
Sel inisial bersinar
(ray initial cel), yang selnya banyak dan lebih kecil dari tipe sel inisial
menggelongdong, bentuknya hampir isodiametris.
Kedua tipe sel inisial lebih besar pada batang yang tua
daru pada batang yang muda. Unsur yang berorientasi memanjang dalam organ,
seperti unsur trakea, serabut, parenkim xilem, floem dan unsur laposan
berkembang dari sel inisial jari – jari. Sell kambium mempunyai noktah primer
dengan plasmodesmata. Dinding menjari lebih tebal daripada dinding membujurnya.
Apabila kambium aktif, wilayah kambiumm terdiri atas beberapa lapisan sel.
Apabila kambium dorman, wilayah kambium berkurang, biasanya hanya satu lapisan
saja. Berdasarkan susunan sel menggelondong,kambium dapat dibedakan menjadi dua
tipe berikut.
1)
Kambium bertingkat
atau berlapis, letak sel inisial menggelondong tersusun dalam deretan mendatar
sehingga ujungnya sama tinggi. Panjang sel inisial ini beragam antara 140 – 150
mm.
2)
Kambium tidak
bertingkat, letak sel inisial menggelondong tumpang tindih satu dengan lainnya.
Tipe kambiu ini ditemukan dengan panjang yang beragam antara 320 – 2300 mm.
Hasil penebalan sekunder menyebabkan lingkaran silinder
xilem meningkat. Kammbium bertingkat membeleh antiklin memanjang. Pada kambium
tidak bertingkat, sel inisial menggelondong membelah miring, semu melintang dan
antiklin, yang diikuti dengan pertumbuhan intrusif.
BAB II
PEMBAHASAN
Batang Karet, Lidah
Buaya, Kacang Hijau dan Jarak Pagar termasuk tumbuhan Dikotil. Ini terlihat
dari susunan pembuluhnya. Yaitu xilem dan floem yang tersusun seperti cincin.
Sedangkan Jagung termasuk tumbuhan Monokotil. Ini terlihat dari berkas
pembuluhannya yang tersebar.(Sri Mulyani, 2006)
Pada
tanaman karet, tipe berkas pengangkutnya adalah tipe kolateral terbuka. Ini terlihat
dari diantara xilem dan floem terdapat kambium yang bersifat dipleuris. Tipe
stelenya termasuk tipe Eustele.(Sri Mulyani, 2006)
Pada
tanaman lidah buaya, tipe berkas pengangkutnya termasuk tipe berkas Konsentris.
Ini terlihat dari xilem dikelilingi oleh floem atau sebaliknya. Batang lidah
buaya ini termasuk jenis konsentris amfikribal, karena xilem dikelilingi oleh
floem. Termasuk tipe stele Protostele. (Sri Mulyani, 2006)
Pada
tanaman Jarak Pagar, tipe berkas pengangkutnya termasuk tipe kolateral terbuka.
Ini dikarenakan diantara xilem dan floem luar terdapat kambiu yang bersifat
dipleuris. Tipe stelenya adalah tipe Diktiostele. (Sri Mulyani, 2006)
Sedangkan
pada tanaman Jagung, tipe berkas pengangkutnya adalah tipe Konsentris Amfikribal.
Ini bisa kita lihat dari floem yang dikelilingi oleh xilem. Tipe stelenya
adalah tipe Solenostele amfifloem. Pada stele terdapat jaringan silindris yang
mempunyai struktur konsentris yang terdiri atas xilem dibagian sentral,
dikelilingi oleh floem. (Sri Mulyani, 2006)
Pada
tanaman Kacang Hijau, tipe berkas pengankutnya adalah tipe Konsentris
Amfikribal. Ini bisa kita lihat dari
xilem dikelilingi oleh floem.
Sedangkan tipe stelenya adalah tipe stele Sifonostele
amfifloem dengan floem terdapat disebelah dalam dan xilem disebelah dalam. (Sri
Mulyani, 2006)
BAB III
DATA HASIL PENGAMATAN
BAB IV
KESIMPULAN
1.
Karet, Lidah Buaya,
Jarak Pagar dan Kacang Hijau memiki anatomi batang yang sama. Sedangkan Anatomi
batang Jagung tidak sama.
2.
Karet, Lidah Buaya,
Jarak Pagar dan Kacang Hijau termasuk tumbuhan Dikotil. Sedangkan Jagung
tumbuhan monokotil.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2000.Daun.http://www.wikipedia.com.[7
Mei 2011].
Mulyani, Sri.2006.Anatomi
Tumbuhan.Yogyakarta: Kanisius.
LAMPIRAN


