Senin, 03 Oktober 2016

Studi Lapang Petani Cabai di Desa Balun Ijuk, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung


LAPORAN
PENGANTAR ILMU PERTANIAN
PENINJAUAN KELAPANGAN




logo ubb.jpg


DOSEN PENGAMPU : ENY KARSININGSIH


NAMA     : FAHRI SETIAWAN
NIM          : 2011011007
PRODI     : AGROTEKNOLOGI
KELAS      : A



FAKULTAS PERTANIAN PERIKANAN DAN BIOLOGI
UNIVERSITAS BANGKA BELITUNG
2011



PENDAHULUAN

            Peninjauan kelapangan merupakan kegiatan yang akan dilakukan oleh setiap mahasiswa pertanian. Peninjauan ini bertujuan untuk mengaplikasikan teori yang diberikan oleh dosen dikelas dan juga untuk menambah ilmu dalam bertani yang bisa didapatkan dengan bertanya kepada para petani. Terkadang ilmu yang didapatkan di kelas dengan fakta yang dilihat dilapangan berbeda. Dengan perbedaan itu kita dapat menyesuaikannya dengan teori yang kita dapat. Peninjauan kelapangan juga bertujuan untuk menghilangkan rasa bosan mahasiswa yang selalu belajar dikelas, dan selalu disuguhkan dengan teori – teori yang terkadang tidak dimengerti oleh para mahasiswa. Sebab, ada beberapa mahasiswa yang baru mengerti bila diteori – teori tersebut dipraktekkan.
            Peninjauan kelapangan kami ini dilaksanakan di desa Balunijuk. Desa yang berada didaerah kecamatan Merawang, kabupaten Bangka Induk. Peninjauan kami ini dilakukan sebagai tugas dari dosen mata kuliah Agribisnis kami, yaitu ibu Eny Karsiningsih. Peninjauan kami ini dilakukan disalah satu kebun sawi milik warga Balun Ijuk. Kebun sawi yang kami datangi ini ukurannya memang tidak begitu luas tetapi dapat menghasilkan sawi yang banyak. Selain bertanam sawi, warga – warga yang berkebun di Balun Ijuk banyak juga yang bercocok tanam tanaman lain. Seperti kangkung, daun kemangi, bengkoang, pisang, kacang panjang, cabe dan lain – lain.
            Dalam peninjauan kami ini, kami cukup banyak mendapat ilmu dari para petani sawi di sana. Seperti cara dalam pembibitan sawi, penggunaan pestisida, jenis – jenis pestisida yang beredar di pasaran. Ilmu dalam menyiapkan lahan sebelum  penanaman juga kami dapatkan. Pemeliharaan tanaman sawi, pemilihan jenis pupuk dan cara pemupukan yang benar. Pemilihan waktu penanaman yang baik serta waktu yang baik untuk memanen sawi juga kami dapatkan. Dan ilmu – ilmu yang kami dapatkan tersebut tidak semuanya kami dapatkan dibangku kuliah.
            Sawi  di daerah Balun Ijuk sudah menjadi gantungan hidup para petani yang dapat menghidupi para keluarga petani, serta juga dapat meningkatkan ekonomi mereka. Modal yang cukup sedikit, harga yang stabil, perawatan yang mudah serta tanaman ini tidak mengenal musim mungkin adalah alasan dari para warga Balun Ijuk untuk menanam sawi. Sehingga kebun sawi menjamur di Balun Ijuk.
            Sawi sendiri merupakan jenis sayuran yang digemari hampir seluruh masyarakat bangka belitung, serta seluruh masyarakat Indonesia. Sawi sendiri dapat dibuat beraneka ragam jenis masakan dan makanan. Sawi juga dapat dilalap dan sebagai pendamping makanan.
            Sawi juga mempunyai banyak manfaat. Selain vitamin dan gizi yang tinggi terkandung didalamnya, ia juga dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Seperti rasa gatal pada tenggorokan pada penderita batuk, sebagai obat sakit kepala. Serta ada juga yang percaya bahwa sawi mampu bekerja sebagai bahan pembersih darah. Penderita penyakit ginjal dianjurkan banyak – banyak untuk mengkonsumsi sawi karena dapat membantu memperbaiki fungsi kerja ginjal.


DSC00172.JPG

Sebagai makanan yang kaya serat sawi juga baik dikonsumsi untuk memperlancar pencernaan.





Salah satu kebun sawi milik warga Balun Ijuk yang dikunjungi.
 
 















TINJAUAN PUSTAKA

A.    Klasifikasi Botani
Pada klasifikasi botani kita dapat melakukan penelusuran mulai dari divis o, klas, ordo, familia, genus, serta spesies (jenis). Divisio merupakan kelompok yang terbesar, sedangkan spesies merupakan kelompok yan g terkecil. Pada kelompok yang terbesar, mempunyai persamaan sifat yang lebih sedikit diantara sesamanya, sedangkan pada kelompok yang makin kecil mempunyai persamaan sifat yang banyak. Pada klasifikasi yang yang lebih detail, tingkat – tingkat klasifikasi tersebut masih dibagi lebih lanjut menjadi bagian – bagian yang lebih kecil lagi yakni sub – sub tingkatan. Spesies dapat dibagi lagi menjadi beberapa varietas seperti  yang kita kenal.
Adapun klasifikasi sawi secara lengkap adalah sebagai berikut.
Divisi               : Spermatophyta
Subdivisi         : Angiospermae
Kelas               : Dicotyledon
Ordo                : Rhoeadales (Brassicales)
Famili              : Crucifarae (Brassicaceae)
Genus              : Brassica



Spesies : Brassica juncea


B.     Jenis – jenis Sawi
Secara umum tanaman sawi biasanya mempunyai daun lonjong, halus, tidak berbulu dan tidak berkrop. Petani zaman dahulu hanya mengenal 3 macam jenis sawi yang biasa dibudididayakan yaitu sawi putih, sawi hijau dan sawi huma. Sekarang ini masyarakat lebiih mengenal caisim alias sawi bakso. Selain itu masih ada pula jenis sawi keriting dan sawi monumen.
1.      Sawi Putih Atau Sawi Jabung
Tanaman sawi jenis ini adalah tanaman sawi yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat, karena memiliki rasa yang paling enak diantara sawi jenis lainnya. Tanaman ini dapat dibudidayakan di tempat yang kering. Sawi jenis ini bila sudah dewasa memiliki daun yang lebar dan berwarna hijau tua. Tangkainya panjang, tetapi lemas dan halus. Batangnya pendek tetapi tegap dan bersayap.
             Beberapa varietas tanaman sawi jenis ini diantaranya adalah nugosa roxb dan prain. Kedua varietas ini berasal dari luar negeri, tetapi cocok juga untuk ditanam di indonesia pada daerah dengan ketinggian 500
– 1000 m dpl.
2.      Sawi Hijau Atau Sawi Asin
Sawi jenis ini kurang banyak dikonsumsi sebagai bahan sayur segar karena rasanya agak pahit. Namun, rasa pahit yang ada pada daun sawi jenis ini dapat dihilangkan dengan cara pengasinan. Masyarakat pada umumnya mengolahnya terlebih dahulu menjadi sawi asin sebelum digunakan untuk camppuran aneka panganan. Selain enak rasanya sawi asin yang sudah jadi biasanya diikat dan berwarna hijau cokelat kebasahan.
Tanaman ini berukuran lebih kecil daripada sawi jabung/sawi putih. Daun sawi jenis ini juga lebar seperti dau sawi putih tetapi warnanya lebih hijau tua. Batangnya sangat pendek tetapi tegap. Tangkai daunnya agak pipih, sedikit berliku, tetapi kuat. Dibudidayakan dilahan yang kering tetapi cukup pengairan.
3.      Sawi Huma
Disebut sawi huma karena jenis ini akan tumbuh baik jika ditanam ditempat – tempat yang kering, seperti tegalan dan huma. Tanaman ini biasanya ditanam usai musim penghujan karena sifatnya tidak tahan genangan air.
Daunnya sempit, panjang dan berwarna hijau keputih – putihan. Tidak seperti sawi putih/jabung dan sawi hijau, jenis sawi huma mempunyai batang yang kecil namun panjang. Tangkainya berukuran sedang serta bersayap.
4.      Calsim alias Sawi Bakso
Jenis sawi yang paling banyak dijajakan. Tangkainya daunnya panjang, langsing, berwarna putih kehijauan. Daunnya lebar memanjang, tipis dan berwarna hijau. Rasanya renyah, segar dengan sedikit sekali rasa pahit.
5.      Sawi Keriting
Daunnya keriting. Selain itu bagian daunnya yang hijau sudah mulai tumbuh dari pangkal tangkai daun. Tangkai daunnya sendiri berwarna putih. Selain daunnya yang keriting boleh dikatakan jenis sawi ini amat mirip dengan  sawi hijau biasa.
6.      Sawi Monumen
Tumbuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tergolong terbesar dan terberat diantara jenis sawi lainnya.
C.     Budidaya Tanaman Sawi
1.      Benih
Kebutuhan benih sawi untuk  setiap hektar lahan sebesar 750 gr. Benih sawi berbentuk bulat, kecil – kecil. Permukaannya licin mengilap dan agak keras. Warna kulit benih cokelat kehitaman.
Benih sawi diperoleh dengan cara menyiapkan benih sendiri atau dengan membelinya ditoko.
a.       Membeli Benih
Belilah benih yang masih baru. Sehingga daya tumbuh dan kadar airnya masih sesuai dengan yang tertulis dilabel. Lihat tanggal kadaluwarsa pada label benih. Benih harus bebas dari hama dan penyakit. Perhatiakan kemasannya apakah masih utuh.
b.      Menyiapkan Benih Sendiri
Benih haruslah diambil dari biji – biji tanaman yang sehat serta hasilnya terbukti memuaskan. Petani haruslah melakukan seleksi untuk memilih biji – biji yang akan dijadikan benih. Beberapa patokan dalam melakukan seleksi biji antara lain keadaan tumbuh tanaman, kebebasan terhadap hama penyakit, keseragaman bentuk, penetuan jenis yang berumur pendek serta tingkat produksi yang tinggi.  Sebelum pemetikan biji – biji, sebaiknya lingkungan sekitar sibersihkan dahulu dari gulma atau tanaman lain. Sehingga kemurnian benih terjaga. Tanaman yang direncanakan digunakan untuk benih diipanen pada umur yang lebih tua daripada untuk tujuan konsumsi, yaitu setelah berumur lebih dari 70 hari. Benih terpisah dari tanaman yang digunakan untuk dikonsumsi. Bedengan tanaman untuk benih dibuat terpisah dan letaknya agak berjauhan dari beedengan sayur yang akan dipanen untuk dipasarkan.
      Setelah biji yang dihasilkam cukup tua, biji dipanen dengan cara dikumpulkan. Selanjutnya biji dianginkan sebentar agar kering. Biji dibersihkan dari kotoran yang mungkin terikut. Selanjutnya benih dimasukkan kedalam wadah kering yang tertutup rapat. Taruh wadah penyimpanan pada tempat yang sejuk namun kering.  
2.      Pengolahan Tanah
Tanah digemburkan sambil membuat bedengan. Tahap – tahap penggemburan tanah ini meliputi pencangkulan untuk memperbaikki struktur tanah serta sirkulasi udaranya dan pemberian pupuk organik/pupuk kimia sebagai pupuk dasar untuk memperbaiki  struktur  fisik serta kimia tanah yang akan menambah kesuburan lahan.
            Tanah yang akan digemburkan harus dibersihkan. Tak boleh ternaungi. Lokasi yang teduh tidak baik untukpertumbuhan sawi karena tanaman ini jenis tanaman yang suka cahaya. Tanah dicangkul sedalam 20 – 40 cm. Tanah tidak boleh bergumpal. Pada saat penggemburan diberikan pupuk organik sebagai pupuk dasar. Berikan sebanyak 10 ton/ha. Jika tanah terlalu asam sebaiknya dilakukan pengapuran. Dilakukan kira – kira 2 – 4 minggu sebelum penggemburan. Bedengan sebaiknya dibuat memanjang dari timur kebarat agar tanaman dapat menerima cahaya matahari.
3.      Pembibitan
Pembibitan dilakukan bersamaan dengan pengolahan tanah untuk penanaman . bedengan pembibitan dibuat dengan menyisihkan atau menggunakan sebagian kecil lahan penanaman. Ukuran bedengan pembibitan tidak perlu lebar karena jarak tanamnya tidak besar. Tinggi bedengan disesuaikan dengan curah hujan. Lebar bedengan sekitar 80 – 120 cm. Panjang  1- 3 meter. Pada tempat yang curah hujannya tinggi, tinggi bedengan kira – kira 20 – 30 cm. 2 minggu  sebelum tabur benih, bedengan pembibitan di beri 2 kg pupukk kandang yang telah ditambah 20 g urea, 10 gr TSP dan 7,5 g KCL.
Benih ditabur pada permukaan bedengan pembibitan. Selanjutnya benih ditutupi dengan tanah yang halus setebal 1 -2 cm. Lakukanlah perawatan dengan penyiraman dengan menggunakan sprayer. Setelah 3 – 5 hari bibit akan tumbuh. Umur 3 – 4 minggu tanaman  siap dipindahkan ke bedengan penanaman.
4.      Penanaman
Lebar bedeng 120 cm dan panjang sesuai ukuran petak tanah. tinggi 20 – 30 cm dengan jarak antar bedengan 30 cm. Seminggu sebelum penanaman bedengan dicampur pupuk kandang 10 gr, TSP 100 kg dan KCL 75 kg per ha lahan. Jarak tanam antar sawi kira – kira 30 x 30 cm
5.      Pemeliharaan
a.       Penyiraman
Penyiraman dapat menggunakan gembor, pipa penyemprotan, sprinkler atau dengan sistem leb. Sistem leb ialah memasukkan air ke areal melalui parit drainase selama beberapa waktu (2- 8 jam).
b.      Penjarangan
Jarak  yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menghisap unsur – unsur dalam tanah. Penjarangan dilakukan 2 minggu setelah penanaman.
c.       Penyulaman
Tanaman yang mati dibuang. Lubang penanaman dibuat  pada bekas tempat  tersebut, selanjutnya tanaman sulaman ditanam sebagai tanaman pengganti.
d.      Penyiangan, penggemburan dan pengguludan
Penyiangan dilakukan  2 – 4 kali selama masa pertanaman. Penggemburan tanah dan pengguludan biasanya dilakukan berbarengan dengan penyiangan. Saat mencabut gulma dengan kored biasanya petani juga mencacah tanah disekitar pertanaman agar gembur. Pengguludan ditujukan untuk memfungsikan parit drainase ssebagai sarana pelancar kelebihan air ataupun saran lalu lalang pelerja. Tanah bedengan yang  jatuh kebagian parit pengairan dinaikan lagi kebedengan semula.
e.       Pemupukan tambahan
Pupuk tambahan diberikan 3 minggu setelah tanam, yaitu urea 50 Kg/ha, TSP dan KCL.

D.    Hama Penyakit dan Pengendaliannya
1.      Hama
Hama tanaman sawi adalah ulat Crocidolomia binotalis, ulat tritip, siput, ulat thepa javanica dan cacing bulu.
a.       Ulat Titik Tumbuh (Crocidolimia binotalis Zell.)
·         Gejala : Daun bagian rusak dan kelihatan bekas  gigitan
·         Pengendalian : menyemprot tanaman dengan Dipterex 50 SP, Diazinon 60 EC, Bayrusil 25 EC, Phosvel 30 EC dan Orthene 75% EC.
b.      Ulat Tritip (Plutella maculipennis)
·         Gejala : daun berbecak – becak putih. Sampai hanya tertinggal tulang daun.
·         Pengendalian : dengan menggunakan obor atau lampu penarik serangga karena hama ini tertarik dengan cahaya. Menggunakan Diazinon 60 EC dan Sevin.
c.       Siput (Agriolimax sp. )
·         Gejala : daun berlubang tetapi tidak merata. Terdapat lendir pada daun.
·         Pengendalian :  gunakan Metapar 99 WP atau diburu.
d.      Ulat Thepa javanica
·         Gejala : daun berlubang dengan jarak antara lubang sangat dekat dan menggerombol.
·         Pengendalian : menggunakan Metapar 99 WP.
e.       Cacing Bulu (cut worm)
·         Gejala : pangkal batang menjadi rapuh dan lama – kelamaan roboh.
·         Pengendalian : lahan digenangi air yang dicaampur Diazinon atau Bayrusil.
2.      Penyakit
a.       Akar Pekuk
·         Gejala : adanya bintil tidak teratur, kemudian bintil bersatu sehingga bengkak.
·         Penyebab : jamur Plasmodioofora.
·         Pengendalian
1)      Jangan memindahkan bibit yang ditanam dari lahan yang sakit kelahan yang sehat.
2)      Pemberian funngisida seperti, Vapan, Benlate, Topsin M, Brassicol.
b.      Bercak Daun Alternnaria
·         Gejala : terdapat bercak – bercak kecil berwarna kelabu gelap yang meluas dengan cepat sehingga menjadi bercak bulat dengan garis tengah mencapai 1 cm.
·         Penyebab : jamur Altemaria brassicae.
·         Pengendalian
1)      Benih yang akan ditanam direndam pada air yang bersuhu 50°C selama 30 menit.
2)      Dengan fungisida Difolatan 4 F, Antracol 70 WP dan Dithane-45 80 WP.
c.       Busuk basah (soft root)
·         Gejala : terjadi bercak kebasahan. Bercak membesar, bentuknya tidak beraturan dan berbau.
·         Penyebab : bakteri Erwina caratovora (Jones) Dye.
·         Pengendalian
1)      Jarak antartanaman jangan terlalu rapat.
2)      Pemanenan sawi harus hati – hati jangan sampai lecet.
3)      Setelah panen, tanaman dapat dicuci dengan klorin atau Borax 7,5%.
4)      Kurangi kelembapan diruang penyimpanan dan buat ventilasi.
d.      Penyakit embun tepung (downy mildew)
·         Gejala : jaringan – jaringan pada tulang daun menguning, kemudian menjadi cokelat ungu dan tekstur daun berubah menjadi kertas. Daun rontok lebih awal. Bagian bawah daun terdapat kapang putih seperti tepung.
·         Penyebab : jamur Perenospora parasitica.
·         Pengendalian
1)      Mengurangi kelembaban di persemaian.
2)      Tanaman yang sakit dicabut lalu dibakar.
3)      Semprot dengan fungisida Dithane M-45, difolatan dan Antracol.
e.       Penyakit Rebah Semai (Dumping Off)
·         Gejala : Adanya luka seperti tersiram air panas pada pangkal batang. Kadang – kadang kerebahan terjadi sesaat sebelum tunas membuka.
·         Penyebab : Jamur Fusarium spp. dan Phytium spp.
·         Pengendalian
1)      Perbaikan teknik budidaya. Penyiraman bedengan.
2)      Sterilisasi bedeng pembibitan dengan menggunakan Basamid G. Penyiraman Fungisida yang mengandung bahan aktif seperti Thiram, captan, dithiocarbamat dan tembaga.

E.     Panen dan Pasca Panen
Dalam hal memanen penting sekali diperhatikan umur panen dan cara panennya. Panen harus dilakukan pada waktu yanf tepat agar kualitasnya baik. Sawi yang dipanen terlalu tua akan menjadi keras dan tidak enak lagi dikonsumsi. Apabila  dipanen terlalu muda maka kuantitas produksi akan lebih sedikit dan harga jualnya pun rendah, dibawah harga standar.
1.      Panen
a.       Umur panen
Umur tanaman sawi tidak begitu panjang. Tanaman ini paling membutuhkan waktu 70 hari untuk bisa dipanen. Paling pendek 40 hari. Biasanya sawi dipanen pada umur 40 – 50 hari. Jenis sawi asin yang akan diolah lebih lanjut biasanya dipanen pada umur 60 – 70 hari. Selain itu pemanenan bisa di lihat dari kondisi fisiknya seperti warna, bentuk dan ukuran daun. Apabila daun terbawah sudah mulai menguning maka harus dipanen.
b.      Cara Panen
Cara penen ada dua macam. Cara pertama dengan mencabut seluruh tanaman beserta akarnya. Cara penen yang kedua adalah dengan memotong bagian pangkal batang yang berada diatas tanah. Penerapan kedua tergantung pada jenis tanahnya. Pada lahan lembab/gembur seperti dataran tinggi lebih efektif dilakukan. Pada lahan kering umumnya dilakukan panen cara kedua.
2.      Pasca Panen
a.       Pencucian dan Pembuangan Kotoran
Sawi yang baru dicabut harus dibersihkan dulu. Maksud dari pembersihan tentu saja untuk membuang kotoran yang melekat pada sayuran. Sawi yang dipanen dengan cara mencabut akarnya harus dipotong. Agar lebih bersih sawi sebaiknya dicuci. Pecucian tidak usah terlalu lama, cukup direndam dalam air sebentar lantas dikibas – dikibaskan untuk mengeringkan air yang menempel. Pencuciam juga bermanfaat sebagai tindakan precooling yakni penurunan suhu sayuran setelah habis dipanen.
b.      Sortasi
Setelah hasil panen dilakukan sortasi. Tujuannya adalah untuk memilih atau memisahkan antara sawi yang baik dan yang jelek. Kriteria sortasi dilihat dari dari sejauh mana batang/daun rusak. Kerusakan maksimum yang ditoolerir sewaktu penyortiran adalah 10% dasri seluruh bagian.
c.       Pengemasan
Setelah disortir sawi dikemas. Pengemasan bertujuan untuk  memudahkan pengiriman, menjaga kerusakan, serta membuat penampilan lebih menarik. Ditingkat petani atau pedagang pengumpul biasanya pengemasan masih dilakukan dalam jumlah besar. Sawi diikat bagian pangkalnya sekitar 3 – 6 batang. Selanjutnya sawi ditaruh dalam, karung plastik yang dilebarkan lantas disatukan dala, gulungan atau ikatan besar. Ikatan tidak terlalu erat, yang penting kumpulan sawi tidak terlepas. Ikatan yang terlalu erat dapat meremukkkan atau mememarkan batang sawinya. Sawi yang hendak dikirim dapat pula ditaruh dalam keranjang – keranjang plastik yang memang khusus dibuat untuk pengiriman buah atau sayur.
d.      Penyimpanan
Disimpan pada ruangan yang bersuhu rendah. Agar untuk menekan proses pelayuan, penuan, maupun kegiatan mikroba perusak. Dengan demikian  jika diproduksi berlebih atau tak langsung laku dalam waktu 1 – 2 hari, sayur dapat disimpan terlebih dahulu.
      Suhunya 0°C, dengan demikian kadar air daun sawi tetap dipertahankan sekitar 95% hingga tetap segar sampai ketangan konsumen. Sawi disimpan dengan baik dapat tahan hingga 3 – 4 minggu.


















PEMBAHASAN

Didalam kehidupan nyata, terkadang teori – teori yang kita dapatkan dibangku kuliah dengan cara petani menanam itu terkadang bertentangan, tetapi ada juga yang sejalan. Ini bisa terjadi karena petani mendapatkan ilmunya hanya dari pengalaman ia saat bercocok tanam. Atau juga ilmu tersebut didapatkan dari orang  tuanya dan diturunkan turun temurun. Seperti cara pembibitan, penanaman, penyemaian, pemilihan pupuk yang baik, cara mengolah tanah atau lahan dan pemilihan pestisida. Pada peninjauan kami dikebun salah satu warga balun ijuk ini, jenis sawi yang kami lihat adalah sawi putih atau sawi jabung.

A.    Pembibitan
Pada fase pembibitan ini terjadi tidak kesamaan dengan teori yang kita dapat dengan kenyataan yang terjadi dilapangan saat kami peninjauan. Teori mengatakan dalam fase pembibitan tanaman sawi dapat dipindahkan ke bedengan penanaman pada saat berumur 3 – 4 minggu dari waktu penyemaian. Sedangkan para petani memindahkan bibit dari penyemaian ke penanaman pada waktu umur 2 minggu dari waktu penyemaian.

B.     Pemilihan Pupuk dan Racun
Penggunaan merek racun dan pupuk oleh para petani didesa balun ijuk ini  ternyata berbeda dengan diteori. Ini mungkin teori yang kami dapat dibuku sumbernya sudah lama, sedangkan kemajuan teknologi pertanian berkembang begitu pesatnya dan banyak merek – merek pupuk dan racun yang beredar dipasaran ini, dengan berbagai macam keunggulan.
      Seperti penggunaan racun untuk membasmi ulat. Para petani menggunakan pestisida merek spontan tetapi buku lebih menganjurkan insektisida merek Metapar 99 WP.
      Dalam pemilihan pupuk para petani di balun ijuk biasannya menggunakan jenis pupuk NPK, seperti NPK Mutiara, NPK Grower dan lain – lain. Dan para petani juga menggunakan pupuk merek wayang.

C.     Kondisi Tanaman
Pada kunjungan saya kekebun sawi milik petani balun ijuk ini. Saya dan teman – teman saya mengunjungi dua petani yang berbeda. Pada petani yang pertama saya melihat kondisi daun sawinya berlubang dan banyak yang menguning. Padahal petani tersebut mengatakan dia telah menggunakan pestisida untuk mengusir hama tersebut tetapi tetap saja tidak mempan. Sesuai dengan teori yang saya pelajari di bangku kuliah, ini terjadi mungkin karena penggunaan pestisida yang terlalu sering sehingga membuat hama menjadi kebal terhadap pestisida tersebut. Dan daun yang menguning mungkin terjadi karena kurangnya unsur hara yang terkandung didalam tanah, karena kondisi tanah pada petani yang pertama kurang subur akibat dari penggunaan lahan yang terlalu sering. Akibatnya unsur hara pada tanah habis.
Sedangkan pada petani yang kedua, kondisi sawinya cukup bagus. Daun sawi terlihat hijau, daun yang bolong dan kuning relatif sedikit. Dan kondisi tanahnya masih subur. Ini terlihat dari warna tanah yang hitam. Hal ini mungkin terjadi karena petani tersebut tidak sering menggunakan pestisida sehingga hama tidak menjadi kebal. Kondisi tanahnya cukup subur dan yang paling penting, mungkin petani yang kedua perawatannya lebih baik dari petani pertama.

D.    Cara Pembudidayaan
Pada kebun sawi yang kami kunjungi itu, ada tambahan cara dalam menanam sawi. Pada bedengan terdapat ilalang yang telah menguning diletakkan diatas bedengan. Hal tersebut ditujukan agar pada saat musim hujan, tanah tidak mengotori daun sawi. Karena telah ditahan oleh ilalang tersebut.

E.     Pemanenan
Pada buku pemanenan sawi dilakukan sekitar umur 40 – 50 hari. Sedangkan petani tersebut memanen sawinya pada umur 25 hari dari penanaman pada musim hujan. Dan dimusim panas pemanenan dilakukan pada umur 20 hari dari penanaman. Pada musim panas tanaman sawi lebih cepat dipanen, mengapa bisa begitu padahal pada musim hujan tanaman sawi lebih banyak mendapat air? Sesuai dengan teori yang kami dapatkan di bangku kuliah hal ini bisa terjadi karena pada musim panas proses fotosintesis terjadi maksimal sehingga proses pembuatan makanan menjadi maksimal. Dengan pasokan makanan yang maksimal pertumbuhan tanaman menjadi lebih maksimal dan waktu panen menjadi lebih singkat.






Sawi  yang telah dipanen dan dikemas menggunakan daun pisang
 

DSC00162.JPG

 














KESIMPULAN

1.      Teori yang kita dapatkan di kelas bisa kita aplikasikan ilmunya di kehidupan nyata.
2.      Terkadang  teori yang kita dapat dengan praktek di lapangan itu berbeda.
3.      Ilmu yang kita dapat dibangku kuliah, terkadang tidak semuanya disampaikan oleh dosen.
4.      Para petani di lapangan mendapatkan ilmu bertanam dari pengalaman sebelumnya.
5.      Tanaman sawi juga banyak terserang penyakit, baik yang disebabkan oleh hama maupun jamur.
6.      Sawi memiliki banyak jenis.
7.      Pemupukan sawi dapat dilakukan dengan pupuk organik maupun pupuk kimia.
8.      Pemberian pestisida pada sawi harus tepat, agar hama tidak menjadi kebal dan pemberantasan hama jadi maksimal.
9.      Sebelum ditanami bedengan harus bebas dari hama, gulma, rumput dan harus dipupuk.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

By :
Free Blog Templates