LAPORAN
PENGANTAR ILMU
PERTANIAN
PENINJAUAN KELAPANGAN
![]() |
DOSEN PENGAMPU :
ENY KARSININGSIH
NAMA : FAHRI SETIAWAN
NIM : 2011011007
PRODI : AGROTEKNOLOGI
KELAS : A
FAKULTAS PERTANIAN PERIKANAN DAN BIOLOGI
UNIVERSITAS BANGKA
BELITUNG
2011
PENDAHULUAN
Peninjauan kelapangan merupakan
kegiatan yang akan dilakukan oleh setiap mahasiswa pertanian. Peninjauan ini
bertujuan untuk mengaplikasikan teori yang diberikan oleh dosen dikelas dan
juga untuk menambah ilmu dalam bertani yang bisa didapatkan dengan bertanya
kepada para petani. Terkadang ilmu yang didapatkan di kelas dengan fakta yang
dilihat dilapangan berbeda. Dengan perbedaan itu kita dapat menyesuaikannya
dengan teori yang kita dapat. Peninjauan kelapangan juga bertujuan untuk menghilangkan
rasa bosan mahasiswa yang selalu belajar dikelas, dan selalu disuguhkan dengan
teori – teori yang terkadang tidak dimengerti oleh para mahasiswa. Sebab, ada
beberapa mahasiswa yang baru mengerti bila diteori – teori tersebut
dipraktekkan.
Peninjauan kelapangan kami ini
dilaksanakan di desa Balunijuk. Desa yang berada didaerah kecamatan Merawang,
kabupaten Bangka Induk. Peninjauan kami ini dilakukan sebagai tugas dari dosen
mata kuliah Agribisnis kami, yaitu ibu Eny Karsiningsih. Peninjauan kami ini
dilakukan disalah satu kebun sawi milik warga Balun Ijuk. Kebun sawi yang kami
datangi ini ukurannya memang tidak begitu luas tetapi dapat menghasilkan sawi
yang banyak. Selain bertanam sawi, warga – warga yang berkebun di Balun Ijuk banyak
juga yang bercocok tanam tanaman lain. Seperti kangkung, daun kemangi,
bengkoang, pisang, kacang panjang, cabe dan lain – lain.
Dalam peninjauan kami ini, kami
cukup banyak mendapat ilmu dari para petani sawi di sana. Seperti cara dalam
pembibitan sawi, penggunaan pestisida, jenis – jenis pestisida yang beredar di
pasaran. Ilmu dalam menyiapkan lahan sebelum
penanaman juga kami dapatkan. Pemeliharaan tanaman sawi, pemilihan jenis
pupuk dan cara pemupukan yang benar. Pemilihan waktu penanaman yang baik serta
waktu yang baik untuk memanen sawi juga kami dapatkan. Dan ilmu – ilmu yang
kami dapatkan tersebut tidak semuanya kami dapatkan dibangku kuliah.
Sawi
di daerah Balun Ijuk sudah menjadi gantungan hidup para petani yang dapat
menghidupi para keluarga petani, serta juga dapat meningkatkan ekonomi mereka. Modal
yang cukup sedikit, harga yang stabil, perawatan yang mudah serta tanaman ini
tidak mengenal musim mungkin adalah alasan dari para warga Balun Ijuk untuk
menanam sawi. Sehingga kebun sawi menjamur di Balun Ijuk.
Sawi sendiri merupakan jenis sayuran
yang digemari hampir seluruh masyarakat bangka belitung, serta seluruh
masyarakat Indonesia. Sawi sendiri dapat dibuat beraneka ragam jenis masakan
dan makanan. Sawi juga dapat dilalap dan sebagai pendamping makanan.
Sawi juga mempunyai banyak manfaat.
Selain vitamin dan gizi yang tinggi terkandung didalamnya, ia juga dapat
menyembuhkan berbagai penyakit. Seperti rasa gatal pada tenggorokan pada
penderita batuk, sebagai obat sakit kepala. Serta ada juga yang percaya bahwa
sawi mampu bekerja sebagai bahan pembersih darah. Penderita penyakit ginjal
dianjurkan banyak – banyak untuk mengkonsumsi sawi karena dapat membantu
memperbaiki fungsi kerja ginjal.
![]() |
Sebagai makanan yang kaya serat sawi juga baik dikonsumsi untuk memperlancar pencernaan.
|
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Klasifikasi Botani
Pada klasifikasi botani kita
dapat melakukan penelusuran mulai dari divis o, klas, ordo, familia, genus,
serta spesies (jenis). Divisio merupakan kelompok yang terbesar, sedangkan
spesies merupakan kelompok yan g terkecil. Pada kelompok yang terbesar, mempunyai
persamaan sifat yang lebih sedikit diantara sesamanya, sedangkan pada kelompok
yang makin kecil mempunyai persamaan sifat yang banyak. Pada klasifikasi yang
yang lebih detail, tingkat – tingkat klasifikasi tersebut masih dibagi lebih
lanjut menjadi bagian – bagian yang lebih kecil lagi yakni sub – sub tingkatan.
Spesies dapat dibagi lagi menjadi beberapa varietas seperti yang kita kenal.
Adapun klasifikasi sawi secara
lengkap adalah sebagai berikut.
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledon
Ordo : Rhoeadales (Brassicales)
Famili : Crucifarae (Brassicaceae)
Genus : Brassica
![]() |
Spesies : Brassica juncea
B.
Jenis – jenis Sawi
Secara umum tanaman sawi biasanya mempunyai daun lonjong,
halus, tidak berbulu dan tidak berkrop. Petani zaman dahulu hanya mengenal 3
macam jenis sawi yang biasa dibudididayakan yaitu sawi putih, sawi hijau dan
sawi huma. Sekarang ini masyarakat lebiih mengenal caisim alias sawi bakso.
Selain itu masih ada pula jenis sawi keriting dan sawi monumen.
1.
Sawi Putih Atau Sawi Jabung
Tanaman sawi jenis ini adalah
tanaman sawi yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat, karena memiliki
rasa yang paling enak diantara sawi jenis lainnya. Tanaman ini dapat
dibudidayakan di tempat yang kering. Sawi jenis ini bila sudah dewasa memiliki
daun yang lebar dan berwarna hijau tua. Tangkainya panjang, tetapi lemas dan
halus. Batangnya pendek tetapi tegap dan bersayap.
Beberapa varietas tanaman sawi
jenis ini diantaranya adalah nugosa roxb dan prain. Kedua varietas ini berasal
dari luar negeri, tetapi cocok juga untuk ditanam di indonesia pada daerah
dengan ketinggian 500
–
1000 m dpl.
2.
Sawi Hijau Atau Sawi Asin
Sawi jenis ini kurang banyak dikonsumsi sebagai bahan
sayur segar karena rasanya agak pahit. Namun, rasa pahit yang ada pada daun
sawi jenis ini dapat dihilangkan dengan cara pengasinan. Masyarakat pada
umumnya mengolahnya terlebih dahulu menjadi sawi asin sebelum digunakan untuk
camppuran aneka panganan. Selain enak rasanya sawi asin yang sudah jadi
biasanya diikat dan berwarna hijau cokelat kebasahan.
Tanaman ini berukuran lebih kecil daripada sawi
jabung/sawi putih. Daun sawi jenis ini juga lebar seperti dau sawi putih tetapi
warnanya lebih hijau tua. Batangnya sangat pendek tetapi tegap. Tangkai daunnya
agak pipih, sedikit berliku, tetapi kuat. Dibudidayakan dilahan yang kering
tetapi cukup pengairan.
3.
Sawi Huma
Disebut sawi huma karena jenis
ini akan tumbuh baik jika ditanam ditempat – tempat yang kering, seperti
tegalan dan huma. Tanaman ini biasanya ditanam usai musim penghujan karena
sifatnya tidak tahan genangan air.
Daunnya sempit, panjang dan
berwarna hijau keputih – putihan. Tidak seperti sawi putih/jabung dan sawi
hijau, jenis sawi huma mempunyai batang yang kecil namun panjang. Tangkainya
berukuran sedang serta bersayap.
4.
Calsim alias Sawi Bakso
Jenis sawi yang paling banyak dijajakan. Tangkainya
daunnya panjang, langsing, berwarna putih kehijauan. Daunnya lebar memanjang,
tipis dan berwarna hijau. Rasanya renyah, segar dengan sedikit sekali rasa
pahit.
5.
Sawi Keriting
Daunnya keriting. Selain itu bagian
daunnya yang hijau sudah mulai tumbuh dari pangkal tangkai daun. Tangkai
daunnya sendiri berwarna putih. Selain daunnya yang keriting boleh dikatakan
jenis sawi ini amat mirip dengan sawi
hijau biasa.
6.
Sawi Monumen
Tumbuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Mirip dengan
petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun
yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini
tergolong terbesar dan terberat diantara jenis sawi lainnya.
C.
Budidaya Tanaman Sawi
1. Benih
Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan sebesar 750 gr. Benih
sawi berbentuk bulat, kecil – kecil. Permukaannya licin mengilap dan agak
keras. Warna kulit benih cokelat kehitaman.
Benih sawi diperoleh dengan cara menyiapkan benih sendiri
atau dengan membelinya ditoko.
a.
Membeli Benih
Belilah benih yang masih baru. Sehingga daya tumbuh dan
kadar airnya masih sesuai dengan yang tertulis dilabel. Lihat tanggal
kadaluwarsa pada label benih. Benih harus bebas dari hama dan penyakit.
Perhatiakan kemasannya apakah masih utuh.
b.
Menyiapkan Benih Sendiri
Benih haruslah diambil dari biji – biji tanaman yang
sehat serta hasilnya terbukti memuaskan. Petani haruslah melakukan seleksi
untuk memilih biji – biji yang akan dijadikan benih. Beberapa patokan dalam
melakukan seleksi biji antara lain keadaan tumbuh tanaman, kebebasan terhadap
hama penyakit, keseragaman bentuk, penetuan jenis yang berumur pendek serta
tingkat produksi yang tinggi. Sebelum
pemetikan biji – biji, sebaiknya lingkungan sekitar sibersihkan dahulu dari
gulma atau tanaman lain. Sehingga kemurnian benih terjaga. Tanaman yang
direncanakan digunakan untuk benih diipanen pada umur yang lebih tua daripada
untuk tujuan konsumsi, yaitu setelah berumur lebih dari 70 hari. Benih terpisah
dari tanaman yang digunakan untuk dikonsumsi. Bedengan tanaman untuk benih
dibuat terpisah dan letaknya agak berjauhan dari beedengan sayur yang akan
dipanen untuk dipasarkan.
Setelah biji yang dihasilkam cukup tua,
biji dipanen dengan cara dikumpulkan. Selanjutnya biji dianginkan sebentar agar
kering. Biji dibersihkan dari kotoran yang mungkin terikut. Selanjutnya benih
dimasukkan kedalam wadah kering yang tertutup rapat. Taruh wadah penyimpanan
pada tempat yang sejuk namun kering.
2. Pengolahan Tanah
Tanah digemburkan sambil membuat
bedengan. Tahap – tahap penggemburan tanah ini meliputi pencangkulan untuk
memperbaikki struktur tanah serta sirkulasi udaranya dan pemberian pupuk
organik/pupuk kimia sebagai pupuk dasar untuk memperbaiki struktur
fisik serta kimia tanah yang akan menambah kesuburan lahan.
Tanah
yang akan digemburkan harus dibersihkan. Tak boleh ternaungi. Lokasi yang teduh
tidak baik untukpertumbuhan sawi karena tanaman ini jenis tanaman yang suka
cahaya. Tanah dicangkul sedalam 20 – 40 cm. Tanah tidak boleh bergumpal. Pada
saat penggemburan diberikan pupuk organik sebagai pupuk dasar. Berikan sebanyak
10 ton/ha. Jika tanah terlalu asam sebaiknya dilakukan pengapuran. Dilakukan
kira – kira 2 – 4 minggu sebelum penggemburan. Bedengan sebaiknya dibuat
memanjang dari timur kebarat agar tanaman dapat menerima cahaya matahari.
3.
Pembibitan
Pembibitan dilakukan bersamaan
dengan pengolahan tanah untuk penanaman . bedengan pembibitan dibuat dengan
menyisihkan atau menggunakan sebagian kecil lahan penanaman. Ukuran bedengan
pembibitan tidak perlu lebar karena jarak tanamnya tidak besar. Tinggi bedengan
disesuaikan dengan curah hujan. Lebar bedengan sekitar 80 – 120 cm. Panjang 1- 3 meter. Pada tempat yang curah hujannya
tinggi, tinggi bedengan kira – kira 20 – 30 cm. 2 minggu sebelum tabur benih, bedengan pembibitan di
beri 2 kg pupukk kandang yang telah ditambah 20 g urea, 10 gr TSP dan 7,5 g
KCL.
Benih ditabur pada permukaan
bedengan pembibitan. Selanjutnya benih ditutupi dengan tanah yang halus setebal
1 -2 cm. Lakukanlah perawatan dengan penyiraman dengan menggunakan sprayer.
Setelah 3 – 5 hari bibit akan tumbuh. Umur 3 – 4 minggu tanaman siap dipindahkan ke bedengan penanaman.
4.
Penanaman
Lebar bedeng 120 cm dan panjang
sesuai ukuran petak tanah. tinggi 20 – 30 cm dengan jarak antar bedengan 30 cm.
Seminggu sebelum penanaman bedengan dicampur pupuk kandang 10 gr, TSP 100 kg
dan KCL 75 kg per ha lahan. Jarak tanam antar sawi kira – kira 30 x 30 cm
5.
Pemeliharaan
a.
Penyiraman
Penyiraman dapat menggunakan gembor, pipa penyemprotan,
sprinkler atau dengan sistem leb. Sistem leb ialah memasukkan air ke areal
melalui parit drainase selama beberapa waktu (2- 8 jam).
b.
Penjarangan
Jarak yang terlalu
rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menghisap unsur – unsur dalam tanah.
Penjarangan dilakukan 2 minggu setelah penanaman.
c.
Penyulaman
Tanaman yang mati dibuang. Lubang penanaman dibuat pada bekas tempat tersebut, selanjutnya tanaman sulaman ditanam
sebagai tanaman pengganti.
d.
Penyiangan, penggemburan dan pengguludan
Penyiangan dilakukan
2 – 4 kali selama masa pertanaman. Penggemburan tanah dan pengguludan
biasanya dilakukan berbarengan dengan penyiangan. Saat mencabut gulma dengan
kored biasanya petani juga mencacah tanah disekitar pertanaman agar gembur.
Pengguludan ditujukan untuk memfungsikan parit drainase ssebagai sarana
pelancar kelebihan air ataupun saran lalu lalang pelerja. Tanah bedengan
yang jatuh kebagian parit pengairan
dinaikan lagi kebedengan semula.
e.
Pemupukan tambahan
Pupuk tambahan diberikan 3 minggu setelah tanam, yaitu
urea 50 Kg/ha, TSP dan KCL.
D.
Hama Penyakit dan Pengendaliannya
1. Hama
Hama tanaman sawi adalah ulat Crocidolomia binotalis,
ulat tritip, siput, ulat thepa javanica dan cacing bulu.
a.
Ulat Titik Tumbuh (Crocidolimia
binotalis Zell.)
·
Gejala : Daun bagian rusak dan kelihatan bekas gigitan
·
Pengendalian : menyemprot tanaman dengan Dipterex 50 SP, Diazinon 60 EC,
Bayrusil 25 EC, Phosvel 30 EC dan Orthene 75% EC.
b.
Ulat Tritip (Plutella maculipennis)
·
Gejala : daun berbecak – becak putih. Sampai hanya tertinggal tulang daun.
·
Pengendalian : dengan menggunakan obor atau lampu penarik serangga karena
hama ini tertarik dengan cahaya. Menggunakan Diazinon 60 EC dan Sevin.
c.
Siput (Agriolimax sp. )
·
Gejala : daun berlubang tetapi tidak merata. Terdapat lendir pada daun.
·
Pengendalian : gunakan Metapar 99 WP
atau diburu.
d. Ulat Thepa javanica
·
Gejala : daun berlubang dengan jarak antara lubang sangat dekat dan
menggerombol.
·
Pengendalian : menggunakan Metapar 99 WP.
e.
Cacing Bulu (cut worm)
·
Gejala : pangkal batang menjadi rapuh dan lama – kelamaan roboh.
·
Pengendalian : lahan digenangi air yang dicaampur Diazinon atau Bayrusil.
2. Penyakit
a.
Akar Pekuk
·
Gejala : adanya bintil tidak teratur, kemudian bintil bersatu sehingga
bengkak.
·
Penyebab : jamur Plasmodioofora.
·
Pengendalian
1)
Jangan memindahkan bibit yang ditanam dari lahan yang sakit kelahan yang
sehat.
2)
Pemberian funngisida seperti, Vapan, Benlate, Topsin M, Brassicol.
b.
Bercak Daun Alternnaria
·
Gejala : terdapat bercak – bercak kecil berwarna kelabu gelap yang meluas
dengan cepat sehingga menjadi bercak bulat dengan garis tengah mencapai 1 cm.
·
Penyebab : jamur Altemaria brassicae.
·
Pengendalian
1)
Benih yang akan ditanam direndam pada air yang bersuhu 50°C selama 30
menit.
2)
Dengan fungisida Difolatan 4 F, Antracol 70 WP dan Dithane-45 80 WP.
c.
Busuk basah (soft root)
·
Gejala : terjadi bercak kebasahan. Bercak membesar, bentuknya tidak
beraturan dan berbau.
·
Penyebab : bakteri Erwina caratovora
(Jones) Dye.
·
Pengendalian
1)
Jarak antartanaman jangan terlalu rapat.
2)
Pemanenan sawi harus hati – hati jangan sampai lecet.
3)
Setelah panen, tanaman dapat dicuci dengan klorin atau Borax 7,5%.
4)
Kurangi kelembapan diruang penyimpanan dan buat ventilasi.
d.
Penyakit embun tepung (downy mildew)
·
Gejala : jaringan – jaringan pada tulang daun menguning, kemudian menjadi
cokelat ungu dan tekstur daun berubah menjadi kertas. Daun rontok lebih awal.
Bagian bawah daun terdapat kapang putih seperti tepung.
·
Penyebab : jamur Perenospora parasitica.
·
Pengendalian
1)
Mengurangi kelembaban di persemaian.
2)
Tanaman yang sakit dicabut lalu dibakar.
3)
Semprot dengan fungisida Dithane M-45, difolatan dan Antracol.
e.
Penyakit Rebah Semai (Dumping Off)
·
Gejala : Adanya luka seperti tersiram air panas pada pangkal batang. Kadang
– kadang kerebahan terjadi sesaat sebelum tunas membuka.
·
Penyebab : Jamur Fusarium spp. dan Phytium spp.
·
Pengendalian
1)
Perbaikan teknik budidaya. Penyiraman bedengan.
2)
Sterilisasi bedeng pembibitan dengan menggunakan Basamid G. Penyiraman
Fungisida yang mengandung bahan aktif seperti Thiram, captan, dithiocarbamat
dan tembaga.
E.
Panen dan Pasca Panen
Dalam hal memanen penting sekali diperhatikan umur panen
dan cara panennya. Panen harus dilakukan pada waktu yanf tepat agar kualitasnya
baik. Sawi yang dipanen terlalu tua akan menjadi keras dan tidak enak lagi
dikonsumsi. Apabila dipanen terlalu muda
maka kuantitas produksi akan lebih sedikit dan harga jualnya pun rendah,
dibawah harga standar.
1.
Panen
a.
Umur panen
Umur tanaman sawi tidak begitu panjang. Tanaman ini
paling membutuhkan waktu 70 hari untuk bisa dipanen. Paling pendek 40 hari.
Biasanya sawi dipanen pada umur 40 – 50 hari. Jenis sawi asin yang akan diolah
lebih lanjut biasanya dipanen pada umur 60 – 70 hari. Selain itu pemanenan bisa
di lihat dari kondisi fisiknya seperti warna, bentuk dan ukuran daun. Apabila
daun terbawah sudah mulai menguning maka harus dipanen.
b.
Cara Panen
Cara penen ada dua macam. Cara pertama dengan mencabut
seluruh tanaman beserta akarnya. Cara penen yang kedua adalah dengan memotong
bagian pangkal batang yang berada diatas tanah. Penerapan kedua tergantung pada
jenis tanahnya. Pada lahan lembab/gembur seperti dataran tinggi lebih efektif
dilakukan. Pada lahan kering umumnya dilakukan panen cara kedua.
2.
Pasca Panen
a.
Pencucian dan Pembuangan Kotoran
Sawi yang baru dicabut harus dibersihkan dulu. Maksud
dari pembersihan tentu saja untuk membuang kotoran yang melekat pada sayuran.
Sawi yang dipanen dengan cara mencabut akarnya harus dipotong. Agar lebih
bersih sawi sebaiknya
dicuci. Pecucian tidak usah terlalu lama, cukup direndam dalam air sebentar
lantas dikibas – dikibaskan untuk mengeringkan air yang menempel. Pencuciam
juga bermanfaat sebagai tindakan precooling yakni penurunan suhu sayuran
setelah habis dipanen.
b.
Sortasi
Setelah hasil panen dilakukan sortasi. Tujuannya adalah
untuk memilih atau memisahkan antara sawi yang baik dan yang jelek. Kriteria
sortasi dilihat dari dari sejauh mana batang/daun rusak. Kerusakan maksimum
yang ditoolerir sewaktu penyortiran adalah 10% dasri seluruh bagian.
c.
Pengemasan
Setelah disortir sawi dikemas. Pengemasan bertujuan
untuk memudahkan pengiriman, menjaga
kerusakan, serta membuat penampilan lebih menarik. Ditingkat petani atau
pedagang pengumpul biasanya pengemasan masih dilakukan dalam jumlah besar. Sawi
diikat bagian pangkalnya sekitar 3 – 6 batang. Selanjutnya sawi ditaruh dalam,
karung plastik yang dilebarkan lantas disatukan dala, gulungan atau ikatan
besar. Ikatan tidak terlalu erat, yang penting kumpulan sawi tidak terlepas.
Ikatan yang terlalu erat dapat meremukkkan atau mememarkan batang sawinya. Sawi
yang hendak dikirim dapat pula ditaruh dalam keranjang – keranjang plastik yang
memang khusus dibuat untuk pengiriman buah atau sayur.
d.
Penyimpanan
Disimpan pada ruangan yang bersuhu rendah. Agar untuk
menekan proses pelayuan, penuan, maupun kegiatan mikroba perusak. Dengan
demikian jika diproduksi berlebih atau
tak langsung laku dalam waktu 1 – 2 hari, sayur dapat disimpan terlebih dahulu.
Suhunya 0°C, dengan demikian kadar air
daun sawi tetap dipertahankan sekitar 95% hingga tetap segar sampai ketangan
konsumen. Sawi disimpan dengan baik dapat tahan hingga 3 – 4 minggu.
PEMBAHASAN
Didalam kehidupan nyata, terkadang teori – teori yang kita dapatkan
dibangku kuliah dengan cara petani menanam itu terkadang bertentangan, tetapi
ada juga yang sejalan. Ini bisa terjadi karena petani mendapatkan ilmunya hanya
dari pengalaman ia saat bercocok tanam. Atau juga ilmu tersebut didapatkan dari
orang tuanya dan diturunkan turun temurun.
Seperti cara pembibitan, penanaman, penyemaian, pemilihan pupuk yang baik, cara
mengolah tanah atau lahan dan pemilihan pestisida. Pada peninjauan kami dikebun
salah satu warga balun ijuk ini, jenis sawi yang kami lihat adalah sawi putih
atau sawi jabung.
A.
Pembibitan
Pada fase pembibitan ini terjadi
tidak kesamaan dengan teori yang kita dapat dengan kenyataan yang terjadi
dilapangan saat kami peninjauan. Teori mengatakan dalam fase pembibitan tanaman
sawi dapat dipindahkan ke bedengan penanaman pada saat berumur 3 – 4 minggu
dari waktu penyemaian. Sedangkan para petani memindahkan bibit dari penyemaian
ke penanaman pada waktu umur 2 minggu dari waktu penyemaian.
B.
Pemilihan Pupuk dan Racun
Penggunaan merek racun dan pupuk oleh para petani didesa
balun ijuk ini ternyata berbeda dengan
diteori. Ini mungkin teori yang kami dapat dibuku sumbernya sudah lama,
sedangkan kemajuan teknologi pertanian berkembang begitu pesatnya dan banyak
merek – merek pupuk dan racun yang beredar dipasaran ini, dengan berbagai macam
keunggulan.
Seperti penggunaan racun untuk membasmi
ulat. Para petani menggunakan pestisida merek spontan tetapi buku lebih
menganjurkan insektisida merek Metapar 99 WP.
Dalam pemilihan pupuk para petani di balun
ijuk biasannya menggunakan jenis pupuk NPK, seperti NPK Mutiara, NPK Grower dan
lain – lain. Dan para petani juga menggunakan pupuk merek wayang.
C.
Kondisi Tanaman
Pada kunjungan saya kekebun sawi milik petani balun ijuk
ini. Saya dan teman – teman saya mengunjungi dua petani yang berbeda. Pada
petani yang pertama saya melihat kondisi daun sawinya berlubang dan banyak yang
menguning. Padahal petani tersebut mengatakan dia telah menggunakan pestisida
untuk mengusir hama tersebut tetapi tetap saja tidak mempan. Sesuai dengan
teori yang saya pelajari di bangku kuliah, ini terjadi mungkin karena
penggunaan pestisida yang terlalu sering sehingga membuat hama menjadi kebal terhadap
pestisida tersebut. Dan daun yang menguning mungkin terjadi karena kurangnya
unsur hara yang terkandung didalam tanah, karena kondisi tanah pada petani yang
pertama kurang subur akibat dari penggunaan lahan yang terlalu sering.
Akibatnya unsur hara pada tanah habis.
Sedangkan pada petani yang kedua, kondisi sawinya cukup
bagus. Daun sawi terlihat hijau, daun yang bolong dan kuning relatif sedikit.
Dan kondisi tanahnya masih subur. Ini terlihat dari warna tanah yang hitam. Hal
ini mungkin terjadi karena petani tersebut tidak sering menggunakan pestisida
sehingga hama tidak menjadi kebal. Kondisi tanahnya cukup subur dan yang paling
penting, mungkin petani yang kedua perawatannya lebih baik dari petani pertama.
D.
Cara Pembudidayaan
Pada kebun sawi yang kami kunjungi itu, ada tambahan cara
dalam menanam sawi. Pada bedengan terdapat ilalang yang telah menguning
diletakkan diatas bedengan. Hal tersebut ditujukan agar pada saat musim hujan,
tanah tidak mengotori daun sawi. Karena telah ditahan oleh ilalang tersebut.
E.
Pemanenan
Pada buku pemanenan sawi
dilakukan sekitar umur 40 – 50 hari. Sedangkan petani tersebut memanen sawinya
pada umur 25 hari dari penanaman pada musim hujan. Dan dimusim panas pemanenan
dilakukan pada umur 20 hari dari penanaman. Pada musim panas tanaman sawi lebih
cepat dipanen, mengapa bisa begitu padahal pada musim hujan tanaman sawi lebih
banyak mendapat air? Sesuai dengan teori yang kami dapatkan di bangku kuliah
hal ini bisa terjadi karena pada musim panas proses fotosintesis terjadi
maksimal sehingga proses pembuatan makanan menjadi maksimal. Dengan pasokan
makanan yang maksimal pertumbuhan tanaman menjadi lebih maksimal dan waktu
panen menjadi lebih singkat.
|
||||
![]() |
||||
KESIMPULAN
1.
Teori yang kita dapatkan di kelas bisa kita aplikasikan ilmunya di
kehidupan nyata.
2.
Terkadang teori yang kita dapat
dengan praktek di lapangan itu berbeda.
3.
Ilmu yang kita dapat dibangku kuliah, terkadang tidak semuanya disampaikan
oleh dosen.
4.
Para petani di lapangan mendapatkan ilmu bertanam dari pengalaman
sebelumnya.
5.
Tanaman sawi juga banyak terserang penyakit, baik yang disebabkan oleh hama
maupun jamur.
6.
Sawi memiliki banyak jenis.
7.
Pemupukan sawi dapat dilakukan dengan pupuk organik maupun pupuk kimia.
8.
Pemberian pestisida pada sawi harus tepat, agar hama tidak menjadi kebal
dan pemberantasan hama jadi maksimal.
9.
Sebelum ditanami bedengan harus bebas dari hama, gulma, rumput dan harus
dipupuk.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar